KONTROVERSI KATA JANCOK DALAM SENI RUPA URBAN: PERSEPSI MASYARAKAT KEBUDAYAAN AREK TERHADAP KARYA SENI JALANAN
DOI:
https://doi.org/10.17977/um037v10i22025p242%20-%20254Keywords:
Seni Rupa Urban, Kata Jancok, Kebudayaan Arek, persepsi budaya, linguistik sosialAbstract
Kontroversi kata jancok dalam karya seni rupa urban, khususnya pada mural dan grafiti di kawasan subkultur kebudayaan Arek di Jawa Timur menjadi latar belakang persoalan dalam penelitian ini. Fenomena tersebut menimbulkan perdebatan publik antara ekspresi artistik dan nilai kesopanan sosial. Tujuan penelitian ini dimana untuk mengungkap persepsi masyarakat subkultur kebudayaan Arek terhadap visualisasi kata jancok dalam karya seni jalanan, serta menelaah berbagai faktor psikologis, sosial, dan budaya yang mempengaruhinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan berfokus kepada masyarakat di daerah persebaran subkultur kebudayaan Arek meliputi Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Gresik, Tuban, Lamongan, Malang, Kediri, dan Blitar. Perolehan data melalui wawancara mendalam dan kuesioner terhadap 22 partisipan yang dipilih menggunakan teknik Purposive Sampling. Analisis data mengacu pada teori persepsi Sarlito W. Sarwono. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kata jancok beragam. Sebagian mempersepsikan sebagai simbol ekspresi otentik dan identitas linguistik, sementara lainnya menilai sebagai bentuk pelanggaran etika estetika. Faktor kepribadian, sistem nilai, dan konteks sosial menjadi penentu utama perbedaan persepsi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kata jancok telah bertransformasi dari bahasa tutur menjadi medium visual ekspresif yang merepresentasikan identitas, kritik sosial, dan kebebasan berekspresi masyarakat urban Jawa Timur.





